Enam manusia terperangkap dalam suatu kebetulan, dalam udara dingin yang menusuk, masing-masing memiliki sepotong kayu, atau begitulah katanya.
Api unggun perlu diberikan kayu lagi, orang yang pertama mengeraskan hatinya, karena di antara wajah-wajah yang mengelilingi api itu, ia lihat satu orang kulit hitam.
Orang berikutnya melihat seseorang yang bukan dari daerahnya, dan tidak rela memberikan kayunya.
Yang ketiga duduk dengan pakaian compang-camping, ia tutup jaketnya rapat-rapat, kenapa ia harus mengorbankan kayunya demi menghangatkan orang kaya?
Yang kaya duduk diam membayangkan kekayaan yang dimilikinya, dan bagaimana caranya mempertahankan miliknya dari orang miskin pemalas itu.
Wajah orang berkulit hitam itu mencerminkan hasrat menuntut balas sementara apinya mati, karena yang ia lihat pada kayunya adalah peluang untuk menuntut balas terhadap orang berkulit putih.
Orang terakhir dalam kelompok yang malang ini tidak mau berbuat apa-apa kecuali ada untungnya, memberi hanya kepada mereka yang memberi lebih dahulu, adalah prinsipnya.
Kayu-kayu mereka, yang mereka pegang erat-erat dalam tangan kaku mereka, membuktikan dosa mereka, mereka bukan mati karena udara dingin di luar.
Mereka mati karena Dingin Dalam Hati.
The 7 Habits of Highly Effective Teens
Tuesday, 25 November 2008
DINGIN DALAM HATI
Posted by M.Novan.Siswandi at 06:23 1 comments
Monday, 24 November 2008
Mencari Sains Islam
Saat ini sains boleh mengklaim atas keberhasilannya yang spektakuler dan luar biasa, dengan pesatnya kemajuan teknologi. Transportasi dan komunikasi menjadi makin mudah dan cepat karena teknologi, inilah yang telah membuat ruang dan waktu semakin tidak berarti. Hasil rekayasa genetik juga bisa mem¬bangun pertanian dan dan kedokteran.
Tapi karena kebiasaannya yang selalu mementingkan produk, teknologi yang dihasilkan sains modern telah menga¬kibatkan kerusakan umat manusia dan ekologi.
Lihatlah efek-efek negatif yang diakibatkannya, insektisida telah mence¬mari air, tanah, dan mengganggu ekosis¬tem. Lapisan ozon telah menipis dan berlubang yang diakibatkan freon, juga gas karbondioksida telah menambah pemanasan global yang mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di kutub utara.
Penyebab semua ini bisa kita lacak dengan menganalisis apa yang melatar¬belakangi perkembangan sains yang sangat pesat itu. Sains modern, secara epistemologis berpijak pada landasan filsafat sains positivisme.
Tidak hanya pada ilmu-ilmu eksak dan teknologi, positivisme juga telah meram¬bah ilmu-ilmu sosial. Inilah yang menyebabkan dekadensi moral dan dehumanisasi kebudayaan. Maraknya perceraian, penyalahgunaan narkotika, psikopat, skizofrenia dan bunuh diri. Ini semua seperti yang dikatakan oleh Fritjof Capra1 sebagai penyakit-penyakit peradaban.
Masalahnya, dalam pandangan posi¬tivisme sains harus objektif dan terbebas dari kepentingan-kepentingan atau nilai apapun dan unsur non ilmiah lainnya. Padahal, jika benar sains adalah cara untuk mempelajari alam secara objektif dan sistematik agar hasil-hasilnya bisa diterapkan secara universal, mengapa subjektivitas dan standar nilai tetap masuk bahkan ke dalam teori-teorinya walaupun sudah diusahakan untuk seobjektif mungkin dan tidak memihak?
Pandangan seperti inilah yang telah menyumbang krisis persepsi dan epistemologis, meski yang terlihat ilmu pengetahun sepertinya semakin maju dan berkembang. Oleh F. Budi Hardiman2 dikatakan bahwa krisis ini lebih menyangkut menyempitnya pengeta¬huan akibat reduksi-reduksi metodologis tertentu yang disertai dengan fragmentasi dan instrumentalisasi pengetahuan.
Positivisme yang telah menghasilkan peradaban modern ini berasal dari pandangan dunia mekanistik-linier yang bersumber dari pemikiran Rene Descartes dan Isac
Paradigma ini dimulai oleh revolusi sains yang ditemukan oleh Copernicus dan telah disempurnakan oleh pemikiran Rene Descartes tentang epistemologi dan pemikiran Isac Newton dalam teori gerak gravitasi (yang selanjutnya akan kita sebut Cartesian-Newtonian). Paradigma Cartesian-Newtonian ini, di satu sisi berhasil mengembangkan sains dan teknologi yang memudahkan kehidupan manusia, namun di lain sisi mereduksi kompleksitas dan kekayaan kehidupan manusia itu sendiri menjadi gerak-gerak material mekanistik.
Sikap Muslim terhadap Sains Modern
Sejak wahyu pertama, surat al-Alaq ayat 1-5, sebetulnya Islam sudah memiliki cirinya tersendiri yaitu penekanannya terhadap ilmu (sains). Al-Quran dan al-Sunah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, juga menempatkan derajar orang-orang berpengetahuan dalam derajat yang tinggi.3 Selain menuntut ilmu itu bersifat wajib, seperti yang dikatakan dalam salah satu hadits Rasul yang sangat populer.
Namun sangat ironis, ketika sains berkembang dengan pesat, umat Islam adalah orang-orang yang tertinggal dalam hal penguasaan dan pengembangannya. Apakah problem dari ketertinggalan umat ini?
Ini dikarenakan sikap umat Islam sendiri yang masih bermacam-macam dalam menyikapi sains modern. Menurut Ziaudin Sardar,4 sikap umat Islam dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. Pertama, muslim apologetik, yaitu mereka yang menganggap bahwa sains modern bersifat universal dan netral. Oleh karena itu mereka berusaha melegitimasi sains modern dengan mencari ayat-ayat al-Quran yang sesuai dengan yang ada dalam sains. Kedua, kelompok yang masih bekerja dengan sains modern, tetapi juga mempelajari sejarah dan filsafat ilmunya agar dapat menyaring elemen-elemen yang tidak islami. Kelompok ini berpendapat bahwa ketika sains modern berada dalam masyarakat islami, maka fungsinya akan termodi¬fikasi, sehingga dapat dipergunakan untuk melayani kebutuhan dan cita-cita Islam. Dan ketiga, kelompok yang percaya adanya sains Islam dan berusaha membangunnya. Mereka beralasan bahwa sains modern tidak dapat memenuhi kebutuhan Islam, karena sains modern mengandung nilai-nilai khas Barat, sang pengembang sains modern, yang melekat padanya.
Sudah saatnya umat Islam merintis kebangkitan dan membangun kembali peradabannya dari sekarang, tentunya kita bisa menentukan sikap mana yang paling tepat untuk diaplikasikan. Tapi seperti dikatakan Abid al-Jabiri5 bahwa kebangkitan tidaklah bertolak dari ruang yang kosong namun harus berpijak pada tradisi, yaitu tradisi kita sendiri di masa lalu atau masa kini. Dan tidak hanya itu, tradisi bangsa lain pun tetap penting, yakni tradisi sains Barat yang kini menguasai peradaban modern. Tetapi bukan berarti kita harus meleburkan diri dan seluruh gerak kita pada tradisi tersebut. Kita hanya menjadikan tradisi tersebut sebagai sarana belajar berpijak pada tradisi kita sendiri secara sadar, kritis, dan rasional.
Ini persis seperti dikatakan Ahmad Anees,6 untuk mendapatkan kembali warisan yang hilang, sebagimana kita melihat lahirnya peradaban Islam dahulu adalah hasil dari mengoperasionalisasikan ilm sebagai tradisi sains Islam dan sintesanya dengan pengetahuan yang berasal dari peradaban yang lain.
Untuk itu, dalam rangka mewujudkan kebangkitan dan kemajuan, salah satu syaratnya menurut al-Jabiri, adalah perlunya kita melakukan pembaruan atas pemikiran kita sendiri, termasuk ins¬trumen berpikirnya, dalam rangka membangun kebudayaan Islam. Lebih signifikannya yaitu dengan sikap yang rasional dan kritis terhadap tradisi Islam sendiri.
Pencarian Sains Islam
Ketika melihat sains modern telah berada di ambang kehancuran, Islam harus bisa menjawab tantangan dengan menawarkan kosep sains yang khas dan berbeda denga konsep sains yang sudah ada dan berkembang saat ini. Karena itu, agar tidak terjebak pada lubang yang sama, seperti yang diakibatkan oleh sains modern, maka sikap yang perlu diambil adalah menghindari islamisasi sains modern dan harus mau bekerja keras mencari konsep sains khas Islam yang berbeda sama sekali dengan yang berkembang dalam tradisi sains Barat.
Sains Islam, menurut Ziaudin Sardar,7 adalah usaha untuk menyelenggarakan kegiatan ilmiah yang berdasarkan prinsip dan nilai-nilai Islam demi menghasilkan sains Islam yang mempunyai tanggung jawab moral, etika, dan sosial, menjadi persoalan baik secara kultural maupun fisik.
Karena itu, sains Islam harus men¬cerminkan karakter-karakter seperti: pertama, sains Islam harus didasari epistemologi integral yang dapat menyatukan fakta yang beraneka dan multi warna, tidak terdapat dikotomi antar pengetahuan antara yang relijius dan sekuler. Jika terjadi dikotomi, maka hal itu akan mereduksi konsep yang telah dikembangkan itu sendiri.
Kedua, mengutamakan prinsip keadil¬an dalam proses dan hasil. Eksperimentasi sains tidak boleh hak orang dan makhluk lain dan terbebas dari kekerasan dan paksaan. Lebih jauh lagi, kegiatan ilmiah islami harus merefleksikan dan memnuhi kepentingan dan kebutuhan masyarakat, yaitu memenuhi asas mashlahat dan manfaat. Sains tidak hanya sekedar untuk memuaskan rasa ingin tahu saja, tapi juga harus merefleksikan dan memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat.
Islam harus bangkit kembali sebagai peradaban. Karena itu kita harus berlari mengejar ketertinggalan dalam hal penguasaan sains, sembari memberikan jawaban atas masalah-masalah yang diakibatkan sains modern, dengan tawaran konsep sains kita sendiri, sains Islam.
Semuanya akan menjadi mungkin, jika para intelektual muslim tidak selalu menjadi para pelacur yang menjual ilmu dan intelektulitas yang mereka miliki sebagai komoditas?!
Posted by M.Novan.Siswandi at 05:03 0 comments
